Minggu, 14 Juni 2015

5 KUNCI AGAR KAMU SUKSES BELAJAR

 Setiap siswa tentu ingin dirinya mampu sukses dalam belajar. Sebagaimana tugas pelajar yaitu belajar, tentu semua ingin sukses dalam belajar. Adapun kunci sukses belajar adalah sebagai berikut :
Pertama, tekad belajar. Jika siswa sudah memiliki kemauan atau keinginan untuk sukses belajar maka tingkatkan lagi untuk mencapai kesuksesan yang lebih tinggi. Keinginan adalah sesuatu yang bersifat pasif namun biasa dimiliki oleh semua orang. Sehingga semua orang dengan mudah mengatakan bahwa ia ingin sukses namun untuk melakukannya sungguh sulit. Sementara tekad adalah keinginan yang kuat dan bulat yang mampu membuat seseorang berbuat aktif dan proaktif untuk meraih apa yang diinginkannya.

Kedua, keyakinan untuk dapat meraih kesuksesan belajar.

Memberikan Pujian Kepada Anak



Memberikan pujian kepada anak sering dirasakan sulit oleh beberapa orang tua. Betulkan dengan semakin banyak memberikan pujian akan berefek baik bagi anak? Sebab, adakalanya pujian tidak dirasakan anak, atau justru menimbulkan kesombongan pada diri anak, atau bahkan sebaliknya, mungkin akan menyinggung perasaan anak.
Karena itu, sebagai orang tua, dalam memberikan pujian sebaiknya kita memperhatikan 3 hal berikut :
1.      Jangan memuji dengan perasaan terpaksa
2.      Jangan memuji hal-hal yang tidak perlu
3.      Jangan memuji secara acuh tak acuh

Lalu, pujian yang dapat dirasakan anak adalah apabila kita :
·         Memuji pada saat kita betul-betul merasa senang, kagum terhadap anak dan sebagainya.
·         Memuji dengan tulus dari dalam hati.
·         Memuji ketika anak merasa ia telah berhasil melakukan sesuatu.


PENTINGNYA BELAJAR DI ATAS TINGKATAN KELAS

Jika anak sudah melewati dua tingkat di atas tingkatan kelasnya mereka mengetahui cara-cara untuk “menaklukan gunung” dan dapat merasakan “kegembiraan dalam belajar” Maju melampui tingkatan kelas merupakan “menabung kemampuan akademik”. Semakin tinggi tingkatan kelasnya, seperti anak SMP atau SMA, biasanya anak akan semakin banyak aktivitas. Oleh sebab itu anak akan semakin sulit untuk konsentrasi. Dengan belajar diatas tingkatan kelasnya, berarti anak telah mempunyai tabungan. Selain itu, tanpa disadari akan terpupuk pengalaman berusaha dan berhasil mengerjakan soal–soal yang belum pernah dipelajari sebelumnya. Terhadap soal-soal baru pun, mereka tidak hanya melihat kemudian menyerah, melainkan berusaha menemukan jawabannya. Dengan merasakan pengalaman tersebut berulang kali, di bawah sadarnya, mereka akar berpikir “Bila Saya berusaha, Saya pasti bisa”. Berbeda dengan anak yang belum belajar di atas tingkatan kelas atau anak yang baru belajar setara tingkatan kelasnya, mereka belum mempunyai pengalaman seperti di atas. Anak yang telah berusaha dengan susah payah untuk maju melampaui tingkatan kelasnya, mempunyai rasa percaya diri sehingga dapat berhati lapang, tidak sombong dan mau mengajarkan pada teman-temanya dengan sabar. Bila anak mempunyai rasa percaya diri dan hati yang tentram, mereka menjadi bisa membentuk perhatian terhadap orang lain dan tumbuh menjadi pribadi yang mulia. Mungkin orang tua akan khawatir jika anak belajar di atas tingkatan kelasnya justru merasa bahwa “belajar tidak lagi menyenangkan”. Sebetulnya masa-masa 1-2 tahun sejak mengikuti Kumon merupakan masa-masa yang bagaimana?

Sabtu, 13 Juni 2015

Keistimewaan Kumon

Metode Kumon adalah cara belajar perseorangan. Setiap siswa maju dengan kemampuannya sendiri. Pembimbing Kumon memberikan dukungan kepada setiap individu siswa dalam mengembangkan kemampuan belajar mandiri.

Mengembangkan kemampuan belajar mandiri

Kumon mendefinisikan kemampuan belajar mandiri sebagai kemampuan untuk menentukan tujuan dan menyelesaikan soal yang sulit secara mandiri. Keinginan untuk mencoba tantangan baru ditumbuhkan dalam diri anak dari pencapaian belajarnya setiap hari.

Dalam Metode Kumon,

Sejarah Metode Kumon



Almarhum Toru Kumon mengembangkan bentuk awal Metode Kumon pada 1954 ketika ia menjadi guru matematika SMA. Pada waktu itu, istri Toru Kumon, Teiko, memintanya untuk melihat pelajaran Aritmetika untuk kelas 2SD dari anak tertuanya, Takeshi, karena ia tidak puas dengan hasil ulangannya.